Tampilkan postingan dengan label Kesaksian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesaksian. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 April 2017



Mujizat Tuhan Yesus yang ajaib dinyatakan di kota Sampit, kita saksikan kesaksian Bapak Bernandus yang disembuhkan Tuhan dari sakit pinggang selama 7 tahun.

Awal mulanya, saya bekerja menjadi Sekuriti di toko Swalayan di kota Sampit, saya sedang memindahkan galon-galon aqua, tiba-tiba saya mengalami sakit pinggang yang luarbiasa. Saya pergi ke tukang pijat untuk diurut namun bukan kesembuhan yang saya dapatkan sakit pinggang saya tidak ada perubahan. 

Kemudian saya pergi ke dokter dan diberikan obat jika sakit pinggangnya kambuh, namun tidak ada perubahan. Saya pulang kembali ke rumah dan untuk mengatasi sakit pada pinggang saya, seringkali minta bantuan isteri saya untuk menginjak-injak pingang saya. Rasa sakit pinggang membuat saya tidak bisa mengangkat benda yang berat dan setiap hari saya sulit bangun tidur.

Pada bulan September 2010, ketika saya sedang bertugas di pos saya sedang mendengarkan radio yang menyiarkan ada tim KPPI dari Jakarta yang akan diadakan kebaktian kesembuhan pada tanggal 22 September 2010, di Gedung Serba Guna Sampit. Saya segera datang kesana jam 6 sore, pada saat puji-pujian saya merasakan hadirat Tuhan. Dan pada saat doa kesembuhan saya mengalami perubahan pinggang saya tidak sakit, saya bisa menggerakkan pinggang saya. Oleh bilur-bilur Yesus saya saya disembuhkan, kini saya tidak mengalami sakit di pinggang dan saya dapat melakukan kegiatan saya lagi. Haleluya !!

Kamis, 30 Maret 2017


Pada bulan Mei 2004, penyakit asma yang diderita suami saya kambuh, sehingga ia harus diopname di salah satu Rumah Sakit di Jakarta Pusat. Ia menempati sebuah kamar dilantai 4, sedangkan tempat pengambilan obat ada di lantai dasar. Akibatnya, saya harus sering naik turun tangga untuk mengambil obat tersebut. Pada suatu hari, ketika saya sedang menjagai suami saya di RS, saya mulai merasa nyeri pada lutut kiri saya.

Rasa nyeri itu semakin bertambah setiap kali saya berjalan dan naik turun tangga. Lama kelamaan, lutut kiri saya mulai membengkak dan berwarna kemerah-merahan. Satu minggu kemudian, saya mencoba berobat ke tukang urut, karena saya berpikir mungkin ada urat syaraf di lutut kiri yang keseleo. Tetapi setelah diurut, lutut kiri saya tidak juga sembuh. Tukang urut itu mengatakan, bahwa saya mungkin menderita asam urat dan menyarankan saya untuk pergi ke seorang dokter spesialis di daerah Depok.

Akhirnya, saya pergi ke dokter tersebut dan dokter menduga saya menderita asam urat. Saya diberi obat seperti teh dal am bentuk sachet yang harus diminum selama 2 minggu. Obat ini membuat saya buang air terus menerus, seperti orang diare, sehingga diharapkan berat badan saya akan berkurang. Temyata, setelah minum obat tersebut selama 2 minggu berturut-turut, berat badan saya memang berkurang, tetapi sakit pada lutut saya sama sekali tidak berkurang.

Seminggu setelah tidak ada perubahan pada lutut kiri saya, suami saya menyarankan saya untuk kembali memeriksakan diri ke seorang dokter di salah satu Rumah Sakit di Jakarta Pusat. Berdasarkan hasil rontgen, dokter mengatakan, bahwa saya menderita radang sendi pada lutut kiri (Osteoarthritis) yang menyebabkan lutut saya terasa sakit bila dipakai jalan atau bergerak, apalagi jika harus naik turun tangga.Selanjutnya, dokter itu menjelaskan kepada saya, bahwa penyakit osteoarthritis atau penyakit sendi degeneratif adalah penyakit yang menyerang sendi-sendi penopang tubuh, misalnya lutut. Penyebabnya adalah rusaknya jaringan tulang rawan pelindung (kartilago) yang menutupi /melingkari ujung-ujung tulang pada daerah persendian.

Kerusakan kartilagomengakibatkan dua tulang saling bergesek, sehingga menimbulkan rasa nyeri, bengkak dan kaku. Penyakit ini kebanyakan menyerang orang-orang yang berusia 40 tahun keatas, mempunyai berat tubuh yang berlebihan (kegemukan), dan lain-lain.Penyakit ini tidak dapat disembuhkan secara total.

Pengobatan yang dilakukan hanya berfungsi untuk mengurangi rasa sakit. Mendengar hal tersebut, saya menjadi sangat cemas. Penyakit yang saya derita ini mengingatkan saya pada kakak saya di Medan. Iapun menderita penyakit yang sama dengan saya pada ke dua kakinya selama 10 tahun. Kini,ia mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Sesuai dengan saran dari dokter, saya harus melakukan beberapa hal, yaitu :

1.Fisioterapi untuk mencegah sendi-sendi menjadi kaku. Saya menjalani fisioterapi 2 kali seminggu selama lebih dari 5 bulan

2. Dua minggu sekali, saya haras pergi ke sebuah RS di Jakarta Pusat untuk menjalani beberapa latihan ringan. Contoh : saya haras mengendarai sepeda statis (sepeda yang sering ditemui di fitness centre) untuk mengurangi rasa sakit akibat peradangan pada sendi, menggerak-gerakkan kaki saya ke atas dan ke bawah sambil mengangkat beban untuk merangsang kaki saya agar bergerak

3.Menurunkan berat badan saya dari 73 kg menjadi 65 kg, agar sesuai dengan tinggi badan saya yang hanya 165 cm. Saya berasaha menurunkan berat badan saya dengan cara senam dan mengurangi makan. Setiap hari, saya hanya makan kentang, labu, wortel dan beberapa macam juice buah. Usaha saya membuahkan hasil. Dalam waktu satu bulan, berat badan saya turun 10 kg

4.Minum susu yang mengandung kalsium untuk menguatkan tulang

5.Tidak boleh makan makanan yang mengandung kolesterol yang tinggi

6.Tidak boleh makan berlebihan, supaya berat badan saya tidak bertambah. Karena, semakin gemuk tubuh saya, semakin berat pula beban lutut saya untuk menanggung tubuh saya yang gemuk itu. Akibatnya, lutut kiri saya akan terasa semakin sakit

Saya merasa, bahwa saya telah melakukan semua saran dokter sekuat kemampuan saya. Tetapi rasa sakit itu tidak kunjung hilang, bahkan semakin lama semakin hebat. Saya tidak tahan duduk atau berdiri lama. Saya tidak dapat berjalan jauh. Tiap kali menaiki tangga, saya haras bergerak dengan sangat perlahan sambil berpegangan erat pada pegangan tangga. Hal ini sangat mengganggu aktivitas saya sehari-hari dan merisaukan hati saya.

Setiap bangun pagi, sesudah membaca Alkitab bersama suami saya, maka saya selalu bersera kepada Tuhan, ’’Tuhan, tolong berkati dan sembuhkan saya !” sebelum saya menjejakkan kaki saya ke lantai. Namun,….. nyeri yang hebat kembali menyerang lutut saya, walaupun saya sudah berasaha berjalan pelan-pelan. Saya merasa begitu tersiksa dengan rasa sakit yang saya alami.

Akhimya, pada suatu hari, seorang hamba Tuhan datang ke rumah saya dan memberikan undangan KPPI.

Pada tanggal 27 Januari 2005, saya datang ke KPPI dengan lutut kiri yang bengkak, nyeri dan sakit. Perjalanan yang cukup jauh dengan mobil angkot menambah rasa sakit pada lutut saya. Namun, selama acara KPPI, saya merasakan sukacita mengalir dalam hati saya.Saat tantangan doa kesembuhan, hamba Tuhan yang berdiri di panggung mengatakan, ’’Barangsiapa yang menderita sakit, bangkit berdiri dan maju ke depan !”, maka pada saat itu juga saya bangkit berdiri.Tiba-tiba, ketika saya akan berjalan ke

depan, saya menyadari bahwa lutut kiri saya sudah tidak terasa sakit lagi. Luar biasa ! Saya mencoba untuk berlari-lari di tempat dan memang benar lutut kiri saya sama sekali tidak terasa sakit lagi. Haleluya ! Saat itu juga, saya tahu bahwa Tuhan Yesus telah menyembuhkan saya. Saya sangat bersyukur dan bersukacita. Tuhan Yesus Ajaib, Dia sungguh baik. Sepulang dari KPPI, semua rasa nyeri dan pembengkakan pada lutut kiri saya telah lenyap ! Saya sudah bisa naik turun tangga dan berjalan jauh tanpa merasa sakit sama sekali. Puji Tuhan ! Saya telah disembuhkan oleh Tuhan Yesus.

Senin, 20 Februari 2017



Berasal dari kota Flores Manggarai dan bersekolah di SMAN 1 ELANG dan selama 3 tahun dia mengikuti taekwondo. Setelah lulus SMA dia ke Jakarta untuk kuliah dan selama 3 tahun dia tidak pernah olahraga. Maka terasa sakit dari mata kaki ke betis lalu pangkal paha ke betis.

Lalu dicoba dengan menaruh koyo ke punggung badannya dan obat obatan luar lainnya tetapi tidak berhasil. Akhirnya dia ke dokter untuk memeriksakan diri tapi tidak ditemui satu penyakit pun.

Akibat munculnya Nyeri Otot atau Myalgia Terlalu memaksakan otot saat beraktifitas fisik secara berlebih, cepat, dan terlalu sering. Otot terkilir dan tegang karena cedera atau trauma Ketegangan atau stress yang terjadi pada salah satu atau beberapa bagian tubuh. Dari situ dia mencoba minum obat yang diberikan dokter tapi tetap tidak kunjung sembuh bahkan pada malam hari dia tidak dapat tidur karena sakit. Penyakit yang dialaminya membuatnya sangat menderita sekali tapi dia tetap berharap Tuhan menolongnya.

Suatu ketika ada Hamba Tuhan yang datang mengajak nya ke KPPI dan dia pun datang ke sini. Dan Puji Tuhan di KPPI dia dapat disembuhkan Tuhan secara ajaib. Saat ini sakitnya sudah tidak ada dia dapat beraktifitas dengan normal

Dia sangat bersyukur buat campur tangan Tuhan yang luar biasa.


Sejak tahun 1999, saya sering mengalami pingsan, karena kepala saya terasa pusing sekali. Pada suatu hari di tahun 1999, ketika saya berjalan hendak pulang ke rumah, tiba-tiba saya terjatuh dan pingsan. Saya tidak dapat bangun, seluruh tubuh saya tidak bisa digerakkan, kaku dan saya tidak bisa berbicara sama sekali. Kemudian, saya dibawa ke sebuah RS di daerah Lampung untuk mendapatkan pengobatan. Dokter mengatakan, bahwa saya mengalami stroke. Selama ± 3 minggu saya mengalami koma. Dokter menyarankan, supaya saya dibawa ke Jakarta.

Selama satu bulan dirawat di sebuah RS di Jakarta, kondisi saya tidak mengalami perubahan apa-apa. Saya mengalami kesulitan untuk menelan makanan. Kondisi ini membuat saya sangat menderita dan tubuh saya pun menjadi sangat kurus.

Pada akhir Desember 2003, saya bermimpi bertemu dengan Tuhan Yesus. Ia mendatangi saya, mengulurkan tanganNya dan berkata : “Akan ada orang yang membantumu dan mendatangimu. Aku selalu mengikutimu.”.

Pada suatu hari, seorang hamba Tuhan mendatangi saya di RS. Ia mendoakan dan memberitakan Firman Tuhan kepada saya. Saat itu, saya percaya kepada Tuhan Yesus dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat saya secara pribadi.

Beberapa hari sebelum acara KPPI, ada hamba Tuhan yang mengundang saya ke KPPI. Saya begitu antusias untuk ikut, walaupun kondisi saya masih belum bisa berjalan. Saya sangat yakin dan percaya, bahwa saya pasti akan disembuhkan di KPPI.

Pada tanggal 22 April 2004, Hamba Tuhan itu datang menjemput saya. Saya datang dalam kondisi tubuh yang lemah dan kepala pusing. Dengan iman yang teguh, saya memaksa diri untuk berjalan dengan cara dipapah oleh hamba Tuhan tersebut. Suster telah mengingatkan saya, “Kalau terjadi apa-apa pada ibu, pihak rumah sakit tidak akan bertanggung jawab.”

Pada saat puji-pujian dinaikkan di KPPI, saya merasakan kekuatan dan sukacita dari Tuhan. Terlebih saat pujian “Kasih dari Bapa memenuhi tempat ini……”, pada saat itu saya merasakan jamahan Tuhan, seperti ada aliran air yang mengalir di tubuh saya dan membuat kaki saya yang lemah menjadi kuat. Saya mencoba menggerakkan kaki saya yang sudah menjadi normal dan kuat seperti 4 tahun yang lalu. Puji Tuhan !

Pulang dari KPPI, saya kembali ke RS tanpa harus dipapah lagi. Keesokan paginya, sayalah yang berjalan ke ruang praktek dokter. Padahal biasanya, dokter tersebut yang mengunjungi saya di kamar. Dokter memeriksa tangan dan kaki saya dan berkata : “Sudah bagus !”. Untuk meyakinkannya, saya dibawa ke ruang terapi. Saya disuruh mengangkat benda seberat 3 kg dan saya bisa melakukannya. Saya juga mencoba mengangkat beban dengan kaki saya dan saya dapat melakukannya. Dengan tersenyum penuh kekaguman, dokter tersebut mengatakan, bahwa tangan dan kaki saya sudah kuat dan sembuh.

Tuhan luar biasa! Sekarang keyakinan saya akan Tuhan Yesus semakin kuat. Saya sungguh-sungguh percaya, bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan dan Penyembuh segala sakit penyakit. Terpujilah Tuhan. Haleluya ! Amin

Senin, 06 Februari 2017



Saya seorang ibu rumah tangga anak 1, asli dari Kupang. Pada akhir September 2013 saya mengalami sakit bila buang air kecil pada sisa akhir Saya awalnya tidak ambil pusing. Tapi 3 minggu makin lama makin sakit. Saya ke tukang urut, saat itu kepikiran oleh saya mungkin saya turun berok karena dulu pernah kena tapi sembuh karnea diurut. Itu alasan kenapa saya ke tukang urut. Selesai diurut, makin sakit, tapi saya berpikir positif mungkin dalam proses sembuh.

Namun keesokan harinya saat buang air kecil mengeluarkan darah demikian berlangsung terus menerus. Kondisi ini membuat saya lemah melakukan aktifitas. Hal ini saya tunggu 3 hari, saya tetap buang air kecil dengan mengeluarkan darah. Akhirnya saya dijenguk oleh tetangga saya, atas sarannya saya ke tukang urut yang lain yang lebih baik. Memang tidak mengeluarkan darah. Namun rasa sakitnya menjalar tidak hanya di bawah perut, tapi sampai di pinggang. Saya mencoba sabar mungkin proses. Tapi rasa sakit semakin jadi.

Bulan Desember seminggu sebelum Natal saya putuskan ke Dokter yang Cengkareng. Tetap saja sakit pinggang, dan mengeluarkan darah saat buang air kecil dan juga sakit saat penghabisan belum ada perubahan. Kembali saya mencoba menunggu mungkin proses kesembuhan.   

Akhirnya Januari 2014 saya mencoba kembali ke Puskesmas Cengkareng, dokter menganjurkan periksa darah. Saya menolak dengan alasan saya punya Yesus yang luarbiasa. Pihak Puskesmas memang memberikan obat sebatas mengurangi rasa sakit saja. Hingga suatu hari, beberapa hari sebelum KPPI datang seorang Hamba Tuhan (Murid Duri Kosambi-Wandi) mengundang saya ke KPPI. Saat menerima undangan itu, saya percaya Tuhan akan sembuhkan saya di KPPI.

Saya datang dengan satu iman. Untuk kesembuhan, saya didoakan dan sampai hari ini sakit saya hilang tidak pernah kambuh. Tuhan Yesus sembuhkan saya Puji Tuhan. 

Haleluya!!

Kamis, 19 Januari 2017

Kembali Tuhan menyatakan kasih setiaNya bagi umatNya. Dinyatakan melalui mujizat yang dialami oleh Ruth Rahel yang disembuhkan dari sakit Radang Otak.

Sekitar 5 – 10 Desember 2015 Ruth mengalami panas yang terus menerus. Obat – obatan yang diminumnya tidak membuatnya sembuh. Tiba -tiba pada tanggal 10 Desember 2004, panasnya naik menjadi 38, 6 C. Dia mulai kejang-kejang dan tangannya mulai mengepal. Ruth dibawa ke Rumah Sakit di daerah Tangerang. Saat itu wajah Ruth sangat pucat dan matanya hanya tampak yang putih saja, ibunya ( Umi Evelina Siagian) sangat kuatir. dirumah sakit Ruth diberi masker oksigen, kakinya diberi infus. Makan dan minum melalui selang yang dipakai dihidungnya. Dan sore harinya dia tidak sadarkan diri, itu berlangsung 4 hari tidak sadarkan diri.

Untuk mengetahui sakit yang Ruth alami, dokter mengambil cairan dari tulang belakang. Hasilnya adalah Ruth menderita sakit Radang Otak ( Encephalitis ) suatu penyakit yang disebabkan oleh Virus yang menyerang susunan syaraf pusat yang mengakibatkan timbulnya gangguan pada syaraf motorik (gerakan) dan syaraf sensorik (penglihatan). Penyakit ini langka dan sulit disembuhkan, sehingga dapat membawa pada kematian.

Hari ke 5 di rumah sakit, Ruth mulai membuka mata, dokter menepuk namun tidak berkedip. Saat disenterpun juga tidak ada reaksi. saat perutnya dicubit juga tidak ada reaksi. Dan juga saat lutut diketuk, maka diketahuilah bahwa Ruth mengalami lumpuh total.

Kemudian 2 Hamba Tuhan dari KPPI datang mengunjungi Ruth dan mendokannya. Keesokan harinya, mujizat terjadi saat jam 5 pagi yang selama ini diam saja, kini bisa menangis. Dan jam 8 pagi tangannya yang lumpuh mulai dapat digerakkan. dan kedua matanya dapat mengikuti cahaya senter yang diarahkan kekiri kekanan juga keatas dan kebawah.

Pada tanggal 17 Desember 2004 masker oksigen dan selang infusnya dicabut. Pada tanggal 5 Januari 2005 hamba Tuhan KPPI datang mengunjungi Ruth di rumah untuk mengajak ke KPPI.

Pada Tanggal 27 Januari 2005 , Ruth dan Ibunya datang ke KPPI. pertama kalinya dan saat didoakan belum ada perubahan. Kembali Ruth dan Ibunya datang kedua kalinya pada tanggal 10 Februari 2005, didoakan kembali saat itu mulai dapat duduk dan berdiri. Dan pada tanggal 28 April 2005 datang kembali untuk yang ke3 kalinya. Kesembuhan Total terjadi Ruth dapat berjalan saat kedatangan KPPI yang ke empat 12 Mei 2005. Ruth didoakan oleh salah seorang hamba Tuhan, ibunya merasakan saat itu panas kakinya Ruth seperti ada aliran listrik. Ibunya percaya saat itu anaknya sudah bisa berjalan.

Ruth dan Ibunya menyaksikan di panggung di KPPI 11 Agustus 2005, 3 bulan setelah mengalami kesembuhan total.



10 tahun kemudian, mujizat kesembuhan yang dialami Ruth Rahel terus berlangsung. Puji Tuhan tim KPPI Jakarta yang sedang melayani di kabupaten Aceh Tenggara lokasinya di desa Lawedeski, kembali bertemu dengan Ibu dari Ruth Rahel yang sekarang ikut melayani Tuhan sebagai konselor. Sungguh besar dan ajaib kuasa Allah yang telah mempertemukan kami kembali setelah hampir 10 tahun lamanya. Dan kesembuhan itu tetap berlangsung sampai saat ini Tuhan terus memelihara Ruth yang sekarang sudah sekolah lulus SD dan akan melanjutkan ke SMP kelas 1. Ruth sungguh bersyukur atas kesembuhan yang dia alami dan Ibunya juga giat melayani Tuhan sekarang ini. Sungguh Dia bapa yang baik bagi semua orang percaya. Terpujilah Tuhan atas kasih setiaNya yang besar ditunjukkanNya bagi orang yang mengasihi Dia !




Senin, 21 November 2016

Saya seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 orang anak dan semua sudah berumah tangga dan tempat tinggal mereka berpencar, hanya 1 orang saja yang tinggal di Jakarta. Sedangkan suami saya adalah seorang pensiunan Angkatan Darat dan dia sudah meninggal dunia. Saya berjemaat di GPIB di daerah Cibubur.

Sakit yang saya alami ini terjadi sudah 2 tahun yang lalu. Suatu hari, saya mendapat giliran untuk menjadi tempat kebaktian Persekutuan Rumah Tangga dari gereja saya. Saya merasa sangat senang sekali. Sehari sebelumnya, saya mulai membenahi rumah supaya rapi. Dan pada hari H-nya, pagi hari, saya mulai sibuk di dapur untuk menyiapkan hidangan karena akan kedatangan tamu. Saya memasak dan membuat kue-kue sendiri karena di rumah tidak ada pembantu. Saya sibuk sendiri di dapur sampai saya pun lupa untuk makan.

Anak saya, Rita namanya, sepulang dari tempat kerjanya datang ke rumah untuk membantu saya. Selesai kebaktian Persekutuan Rumah Tangga, dia ikut merapikan dan mencuci semua perabot yang telah dipakai.

Setelah selesai semua, malam harinya, saya mulai merasakan badan saya tidak enak, kepala terasa pusing dan tidur pun tidak terasa nyaman. Saya hanya berpikir bahwa saya kecapekan karena seharian bekerja keras di dapur.

Beberapa waktu kemudian, saya merasa ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil. Saat saya melihat bahwa air kencing saya berdarah, saya sempat kaget dan shock. Saya berpikir masa saya mendapat haid tidak mungkin sebab saya sudah berusia 68 tahun. Seketika itu juga, dalam kondisi lemah, saya berteriak memanggil-manggil anak saya : “Rita………Rita……. Tolong Mami……..! “ Anak saya datang dan kaget melihat apa terjadi pada diri saya. Lalu saya dipapah ke kamar tidur. Dan saat itu darah terus mengalir sampai saya berkali-kali mengganti pembalut sampai tak terhitung jumlahnya. Karena, banyaknya darah keluar, akibatnya tubuh saya terasa lemas sekali.

Keesokan harinya, bulan Maret 2005, saya merasa tubuh saya drop sekali dan wajah saya kelihatan pucat lalu anak saya membawa saya berobat ke RS PAD Gatot Subroto di daerah Senen, Jakarta Barat. Saya langsung dibawa ke ruang Unit Gawat Darurat [UGD]. Setelah itu saya diperiksa di bagian kebidanan. Setelah dokter memeriksa saya, dokter mengatakan bahwa saya bukan mengalami sakit pendarahan. Saya dikembalikan ke ruang UGD dan ditangani oleh dokter spesialist penyakit dalam. Saat itu saya tidak dirawat inap karena semua kamar penuh. Tindakan awal yang diambil oleh dokter yaitu menghentikan dulu pendarahannya dengan cara memberi saya beberapa macam obat untuk diminum. Sesampai di rumah, saya hanya bisa berdoa dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan, hanya Dia pengharapan dalam hidup saya.

Besok paginya, saya diantar oleh anak saya kembali ke RS guna menjalani pemeriksaan seperti : foto rontgen untuk seluruh anggota tubuh dan juga USG. Dari hasil pemeriksaan foto rontgen, seperti : paru-paru, jantung dan sebagainya, dokter menyatakan bagus tidak ada penyakit. Tetapi dari hasil USG, dokter mengatakan bahwa terdapat tumor pada buli-buli saluran kantung kemih dan harus dioperasi dengan cara laser. Mendengar kata operasi, saya merasa begitu takut. Berkat dukungan semua anak-anak dan juga teman-teman segereja, saya menjadi tenang.

Saya menunggu jadwal operasi selama 1 minggu di rumah, pendarahan saya mulai berhenti tetapi tubuh saya masih terasa lemah dan saya tidak bisa melakukan aktivitas apa-apa. Saya hanya terbaring saja dan sesekali duduk. Pada tahun 2005, ada seorang hamba Tuhan dari KPPI datang ke rumah. Kira-kira pada tahun 2004, saya pernah datang ke KPPI dan sembuh dari sakit katrak. Maka dari itu, ketika seorang hamba Tuhan kembali datang ke rumah, saya merasa sangat bersukacita. Ketika hamba Tuhan tersebut kembali mengundang dan mengajak saya datang ke KPPI, tanpa berpikir panjang saya langsung mengiyakan ajakannya.

Saya datang ke KPPI, dalam kondisi pendarahan mulai berhenti tetapi tubuh masih lemah. Sepanjang kebaktian, saya memuji-muji Tuhan dengan penuh sukacita. Saat Firman Tuhan disampaikan, iman saya semakin dibangkitkan. Pada saat tantangan doa kesembuhan, saya maju untuk didoakan oleh seorang hamba Tuhan. Saat didoakan saya merasa ada aliran yang mengalir di seluruh tubuh saya. Saya percaya bahwa saya pasti sembuh.

Dua hari kemudian, saya kembali ke RS PAD Gatot Subroto untuk menjalani rawat inap guna menjalani pemeriksaan menghadapi persiapan operasi. Siang hari setelah bertemu dengan dokter, beliau mengatakan bahwa saya mulai malam ini menjalani puasa untuk operasi besok siang sekitar pkl. 14.00 WIB. Sekitar pkl. 10.00 WIB, saya mulai berganti baju operasi dan dibawa ke kamar operasi. Saya hanya bisa berdoa dan memohon Tuhan ikut campur tangan dalam operasi nantinya. Saya hanya dibius lokal pada tubuh saya yaitu tubuh bagian bawah saja.

Sebelum melakukan operasi, tim dokter terlebih dahulu mengadakan pemeriksaan kembali pada tubuh saya. Setelah beberapa lama, saya diperiksa, saya mendengar pembicaraan tim dokter bahwa tumor pada buli-buli kantung kemih saya sudah tidak ada lagi. Dan yang terlihat hanya bekas-bekasnya saja berupa warna kemerah-merahan dan itu harus dibersihkan. Dan dokter menyatakan bahwa saya tidak jadi dioperasi. Puji Tuhan……….! Tuhan Yesus telah sembuhkan saya.

Saya sangat bersyukur atas mujizat kesembuhan yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup saya. Dia sungguh sangat ajaib. Sekarang saya dapat berkativitas kembali seperti semula.

Sungguh kuasa Tuhan tidak pernah berubah bagi orang yang percaya dan berharap padaNya.
Tuhan menyatakan kuasaNya kepada ibu Aneke yang sembuh dari sakit stroke selama 10th.

Ibu Aneke seorang ibu rumah tangga biasa awalnya ibu Aneke sakit biasa saja yang tidak membuat dia untuk berobat kedokter.

Lama kelamaan ibu Aneke merasa lemas dan tangan,kakinya tidak bisa digerakan dia tidak melakukan aktifitasnya melihat kondisi ibu Aneke semakin menurun akhirnya anaknya mengambil keputusan untuk membawa dia kedokter dan setelah di Ctscan ternyata sakit ibu Aneke kata dokter kolesterol,gula darah tinggi,ibu Aneke mengalami komplikasi itu penyebab dia sakit stroke.

Ibu Aneke sudah berobat kemana-mana tapi sakitnya tidak mengalami perubahan,ibu Aneke tidak menjadi putus asa tiap-tiap hari dia berdoa dan percaya akan kuasa Tuhan.

Pada bulan Maret 2015 ibu Aneke dilayani oleh tim KPPI dan mengundang dia untuk hadir ke KPPI. Ibu Aneke dengan iman percaya pada Tuhan kppi tgl 13 Maret 2015 dia datang berharap Tuhan menyembuhkan akan dia,Puji Tuhan dia mengalami jamahan Tuhan tangan dan kakinya mulai ada perubahan tapi belum sembuh total.Ibu Aneke tidak putus asa dia terus berdoa berharap pada Tuhan.

Kembali Ibu Aneke datang keduakalinya ke KPPI pada tgl 27 Maret 2015 ibu Aneke datang dengan Iman yang percaya pada kuasa Tuhan.

Puji Tuhan saat didoakan ibu Aneke merasa akan jamahan Tuhan ada kuasa yang mengalir dibagian tangan dan kakinya Puji Tuhan ibu Aneke dapat menggerakan tangannya dan kakinya sudah dapat berjalan.

Terpujilah Tuhan sekarang ibu Aneke sudah sembuh dan sakit stroke selama 10 tahun sekarang ibu Aneke kembali dapat melakukan atctivitasnya haleluya ibu Aneke sudah sembuh.


Senin, 17 Oktober 2016

Pada sekitar tahun 2011, suatu hari saat bangun tidur pagi, kepala saya terasa sakit sekali, sakit yang belum pernah saya alami. Karena sakitnya saya sulit membuka mata. Saat membuka mata, tiba-tiba mual ingin muntah. Saya pun merasa tidak kuat untuk bangun. Tiba-tiba saya ingin muntah, maka saya muntahkan di plastik. Ketika ingin buang air, saya berjuang untuk berjalan ke kamar mandi dengan merambat ke tembok, sambil menutup mata, menahan rasa sakit. Saya juga mencoba mengosok tubuh dengan balsam, namun sepertinya tidak memberi pengaruh. Akhirnya saya meminta anak saya yang pertama datang dari Tangerang untuk membawa saya ke dokter. Selanjutnya, kata dokter saya menderita sakit vertigo.

Penyakit yang saya alami ini kemudian sering kambuh, walaupun parahnya tidak seperti yang kali pertama. Penyakit ini sangat mengganggu saya dalam kegiatan sehari-hari, baik saat menjahit (saya seorang penjahit), ataupun saat mengurus rumah tangga serta suami saya yang sakit stroke. Bila sewaktu-waktu penyakit itu kambuh, maka saya minum obat yang dokter berikan dan kalau habis saya beli di toko obat ataupun apotik. Obat itu dipastikan selalu ada, dikarenakan sakit yang sewaktu-waktu dapat kambuh. Biasanya menyerang saat bangun tidur. Efek sakit kepala yang paling terasa adalah saat menengok sehingga harus disertai dengan menggerakkan badan. Dengan sakit yang saya alami ini membuat saya semakin menyadari bahwa saya hanya bisa berharap dari mujizat Tuhan.

Awal September 2016, seorang Hamba Tuhan datang mengundang saya ke KPPI. Selang beberapa hari kemudian sakit saya kambuh lagi. Saat itu saya beriman tidak mau minum obat lagi, sebab selama ini saya sangat ketergantungan dengan obat vertigo.

Pada tanggal 8 September 2016, saya bersama suami datang ke KPPI. Dengan iman saya berangkat walau dalam kondisi sedang vertigo. Saya merasakan hati damai saat puji-pujian dinaikkan. Dan ketika didoakan oleh seorang Hamba Tuhan di KPPI, saya merasakan kepala saya jadi ringan. Kepala saya dapat menengok kiri dan kanan dengan bebas tanpa rasa sakit. Saya sangat bersukacita.

Puji Tuhan, sampai saat ini penyakit vertigo itu tidak pernah kambuh lagi. Saya berbahagia karena Tuhan sudah sembuhkan.  Dengan hati bersyukur saya akan melayani Tuhan dan menjadi saksi bahwa Tuhan itu baik dan sangat baik. Terimakasih Tuhan untuk kasih yang Tuhan nyatakan di dalam kehidupan saya.  Amin.

Hallelujah!



Senin, 10 Oktober 2016

Nama saya Jeni Mariana Pasaribu, umur saya 34 tahun, saya dan suami saya telah dikaruniai 3 orang anak, saya bekerja di salah satu rumah sakit di Medan bagian administrasi. Tanggal 25 Agustus 2010 saya mengalami mual, mau muntah tidak selera makan, esok harinya saya jatuh di rumah sakit, karena saya bekerja di rumah sakit. Saya dibawa di IGD untuk dirawat dan diobservasi sebentar. Setelah itu saya disuruh pulang, keesokan harinya saya tidak tahan lalu dibawa ke RS, saya diopname, menurut hasil dokter sementara saya mengidap penyakit maag. Keesokan harinya saya pulang dan kembali bekerja di RS. Saya masih penasaran terhadap penyakit yang saya derita, kemudian saya di USG oleh dokter, ternyata ada batu di empedu sebesar 3 mm, lalu dokter mengajurkan agar saya dioperasi.

Pada tanggal 30 Agustus 2010 saya masuk rumah sakit, tanggal 31 Agustus 2010 jam 09.00 wib. Saya dioperasi di RS, setelah itu saya dibawa ke ruang ICU, setelah saya sadar dokter mengatakan bahwa empedu saya sudah infeksi, bernanah, dan nanahnya itu ditampung dan ditaruh dalam wadah kecil sebanyak setengah mangkok bakso dan empedu saya sudah diangkat. Kemudian saya dibawa kedalam ruang rawat dan hasil empedu itu di PA kan ke laboratorium.

Lima hari kemudian sudah diketahui hasilnya yaitu saya mengidap penyakit kanker ganas. Hati saya sangat sedih, mendengar hasil pemeriksaan yang menyatakan saya mengalami sakit kanker ganas. Suami saya, keluarga saya mengetahui ini sangat sedih dan menangis mendengar penyakit kanker ini. Tetapi saya pura-pura kuat, dari luar kelihatannya kuat tetapi sebenarnya hati saya hancur. Saya berdoa, “Tuhan, itu bukan hasil saya”. Saya masih penasaran, kemudian saya diperiksa kembali oleh dokter itu ternyata memang betul kanker ganas, sudah dua minggu saya di rumah sakit, kemudian saya pulang ke rumah. Selama dua hari di rumah, ternyata badan saya berubah menjadi kuning, mata saya juga berubah kuning, warnanya seperti kunyit, kemudian saya dibawa ke klinik terdekat, saya hanya dirawat selama lima jam, kemudian saya dirujuk kembali ke rumah sakit yang ada di Medan Timur. 

Setelah dua hari saya dirawat di rumah sakit itu, bocorlah bekas operasi yang di empedu. Kemudian keluarlah banyak cairan dari empedu saya dan keluar melalui lubang di perut bekas operasi. Seminggu saya di rumah sakit, kemudian dokter memeriksa saya kembali dan dokter mengatakan “Kita akan melihat kembali kondisi Ibu ini jika dia bisa bertahan seminggu ini maka itu merupakan mujizat dan semangat dari Ibu ini”. Setelah dua minggu di rumah sakit, mata saya kembali berubah menjadi putih, saya sulit berbicara, makan pun dari selang NGT, badan saya, kuku saya hancur. Selama dirawat di rumah sakit, banyak keluarga saya datang juga rekan kerja menjenguk saya di rumah sakit. Dan setiap mereka melihat kondisi saya, maka banyak diantara mereka mengatakan “Tidak ada lagi harapan”. Saya dirawat di rumah sakit selama empat bulan.

Bulan ke sepuluh kondisi saya semakin gawat, saya sudah koma, sudah tidak bisa lagi berbicara, untuk bernafas sudah satu-satu. Dokter pun sudah angkat tangan, dokter pun mengatakan “sudah tidak bisa lagi diobati”. Dan dokter juga mengatakan umur saya tinggal satu minggu lagi, kalau saya bisa bertahan dalam seminggu, itu berarti saya sudah termasuk cukup kuat juga. Mendengar hal itu, saya menangis, saya berdoa. Selama ini kalau saya berdoa selalu setengah-setengah, sembilan puluh persen percaya kepada Tuhan dan sepuluh persen kepada dokter, selama ini saya berpikir demikian, ternyata Tuhan tidak mau saya hanya percaya sembilan puluh persen, Tuhan mau saya seratus persen percaya kepada Dia. Saya ingat firman Tuhan, “Mintalah maka kau akan diberi. Berserulah maka engkau akan dijawab”. Saya minta kepada Tuhan kesembuhan, saya berseru kepada Tuhan, “Tuhan saya minta kesembuhan!” Saya mengatakan firman Tuhan, saya ingat wanita pendarahan 12 tahun, “asal kujamah saja jubahNya”. Katanya, Maka dia akan sembuh, saya menutup mata, saya membayangkan Tuhan Yesus turun dari langit. Saya pegang jubahNya, karena Tuhan itu tidak pernah berubah, dulu, sekarang, dan selamanya. Saya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku pegang jubahMu, aku pegang jubahMu, dan aku sembuh”. Keesokan harinya keadaan saya semakin gawat dan saya langsung dibawa ke ruang ICU, selama lima hari saya tidak sadarkan diri, dianggap orang, saya sudah mati, tidak ada lagi harapan, karena sudah semua alat masuk kedalam tubuh saya. Setelah saya sadar kemudian datang hamba Tuhan dari CWS, tim HMC. Mereka datang dan mendoakan saya, saat itu kondisi saya masih lemah dan belum bisa bicara.

Pada tanggal 20 November 2010, datang hamba Tuhan Pdt.Daniel dan Bpk.Silitonga dan beberapa hamba Tuhan lainnya. Para hamba Tuhan ini mendoakan saya, kemudian saya diajak untuk datang ke acara KPPI, sebelumnya keluarga saya sempat mengatakan kepada saya mau dikuburkan dimana ? Mertua saya dan Tulang dari suami saya mengatakan mau dikubur dimana ? Hati saya begitu sedih ketika mereka mengatakan hal seperti itu, lalu saya menuliskan di kertas, saya menuliskan “saya masih bernafas”, mereka juga mengatakan kepada suami saya agar suami saya jangan kawin lagi, kemudian saya menuliskan “saya masih bernafas, jangan bilang kawin, saya masih bernafas, jangan bilang mau di kubur”. Mama saya bilang “mate do ho inang?” (bahasa Batak), saya kemudian menuliskan di kertas “Ma, saya tidak mati, saya masih bernafas berarti saya masih ada harapan untuk hidup”. Keluarga saya merasa saya sudah tidak ada harapan lagi. Tetapi pada saat itu justru saya yang menguatkan keluarga saya, bukan mereka yang menguatkan saya.

Tanggal 22 November 2010, saya diajak ke KPPI, pada saat puji-pujian saya sudah merasakan kuasa Tuhan, pada saat datang saya belum bisa berdiri ataupun berjalan, saya datang dengan menggunakan kursi roda tapi pada saat puji-pujian saya mulai dapat berdiri dan berjalan. Saya sungguh merasakan kuasa Tuhan bekerja dalam diri saya. Sepulang dari KPPI di gereja CWS Medan, saya kembali pulang ke RS, dan saat di rumah sakit saya merasakan kaki saya kembali tidak bisa berjalan. Bahkan keesokan harinya dokter juga sempat mengatakan agar saya pulang ke rumah saja, dan memberitahukan kepada suami saya, agar saya diberikan makanan yang enak-enak di rumah. Suami saya sempat berpikir berarti umur saya tidak lama lagi. Pada tanggal 27 November 2010, saya dibawa pulang ke rumah, di rumah keadaan saya tetap sakit dan dari empedu saya terus mengalir cairan, pada saat keuangan di keluarga saya juga sedang mengalami krisis. Setiap hari saya menghabiskan uang sebanyak Rp.50.000, hanya untuk membeli kassa dan plester bahkan di tempat saya bekerja saya pun dipecat karena sudah lama saya tidak masuk kerja. Dan pada saat kondisi saya seperti itu, saya bersyukur kepada Tuhan untuk suami saya, karena dia selalu mendukung saya, menyayangi saya dalam kasih Tuhan, walaupun kondisi saya lemah dan wajah saya kurus dan kelihatan sangat tua, suami saya tetap sayang kepada saya, dia tidak malu dengan keadaan diri saya.
Sekalipun di rumah tidak bisa berjalan dan tubuh saya lemah, namun saya tetap berdoa dan membaca Alkitab, saya menangis di hadapan Tuhan, saya mengemis kepada Tuhan agar saya diberikan panjang umur.

Pada bulan Januari 2011, dengan iman saya membuang semua obat yang diberikan oleh dokter, saya berpikir obat ini tidak menyembuhkan saya, saya hanya berdoa dan memegang janji Tuhan melalui firmanNya. Dan saat itu saya mulai mengalami perubahan, saya sudah mulai dapat berdiri namun masih harus pegang tembok, namun untuk buang air kecil harus berdiri belum bisa duduk, dan luka di bagian perut akibat operasi juga mulai tertutup sedikit. Awal bulan Pebruari 2011, saya sudah berdiri dan berjalan ke kamar mandi tanpa memegang tembok, dan pertengahan bulan Pebruari 2011, saya sudah bisa ke kamar mandi sendiri, dan akhir bulan Pebruari 2011, lubang di perut saya bekas operasi sudah mulai tertutup tinggal sedikit lagi sebesar lubang jarum dan masih sedikit keluar cairan dan saya sudah bisa berdiri dan duduk sendiri tanpa dibantu orang lain. Dan di awal bulan Maret 2011, lubang bekas operasi itu sudah tertutup rapat dan sudah tidak ada keluar cairan lagi dari lubang bekas operasi yang ada di perut saya, saya sudah bisa berjalan dengan cepat dan awal bulan April 2011 saya sudah bisa berlari, saya sudah bisa menggendong anak saya, saya sudah bisa memasak, sudah bisa mengepel lantai.

Puji Tuhan pada bulan Mei 2011 saya diterima kembali di tempat kerjaan saya yang lama setelah sebelumnya saya sempat dipecat karena sudah lama saya tidak bekerja karena sakit.
Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, saya sangat berterima kasih kepada Tuhan atas karunia yang diberikan kepada saya. Saya rindu untuk melayani Tuhan untuk membalas semua kebaikan yang Tuhan sudah berikan kepada saya.

Haleluya !!


Butuh layanan doa dari kami silahkan menghubungi kami di nomor 0888 0850 5162 / 0813 8028 3086










Jumat, 07 Oktober 2016

Pada awal penyakit ini muncul, saya merasakan  kepala saya pusing, tapi saya diamkan saja. Kemudian pusing lagi untuk yang  kedua kalinya,  kembali saya diamkan.  Saya tidak ke dokter karena saya berpikir kalau ini hanya sakit kepala biasa.

Makin lama pusing ini makin sering muncul.  Sampai suatu hari ‎semakin parah, sampai-sampai saya tidak bisa melihat terang dan saya tidak bisa bergerak, saya harus tiduran.  Suami saya (Bp. Janu Darma Saragih) harus menunggui saya, untuk membantu memapah bila saya ingin ke kamar mandi, menyiapkan minuman sampai menyuapi saya makan.

Sakit vertigo ini bisa datang seminggu 2 kali, kadang seminggu sekali. Saya alami sampai sekitar 6 bulan.  ‎Saya hanya bisa berdoa dan berdoa dan percaya bahwa Tuhan pasti sembuhkan saya.

Suatu kali Tuhan menjawab doa saya, saya didatangi oleh seorang hamba Tuhan dari KPPI mengundang saya datang ke acara Kebaktian Kesembuhan Ilahi yang diadakan di Gedung Pertemuan Adven Pancoran Tebet pada hari Kamis, 29 Oktober 2015.  Saya langsung mau datang karena saya sangat rindu disembuhkan Tuhan. Puji Tuhan saat tantangan doa kesembuhan, saya maju ke depan dan didoakan oleh seorang Hamba Tuhan. Setelah didoakan Puji Tuhan mujizat terjadi, sakit kepala yang saya rasakan tiba-tiba hilang dan saya merasakan kesembuhan terjadi.  Kepala ringan dan‎ sakit lenyap. Puji Tuhan, Tuhan Yesus telah menyembuhkan saya.

Sejak saat itu vertigo tidak pernah kambuh lagi, Puji Tuhan, Tuhan sangat baik dan ajaib. Saya menyadari saya tidak dapat membalas kasih Tuhan yang besar, karena itu saya mau membagikan berita kesembuhan di dalam Tuhan Yesus kepada banyak orang.

Senin, 26 September 2016

Kembali Tuhan menyatakan kasih setiaNya bagi umatNya. Dinyatakan melalui mujizat yang dialami oleh Martinus Angresu yang disembuhkan dari sakit Ginjal.

Sejak Maret  2015, di awali rasa sakit, saat dia masih bekerja di kapal,  yaitu di ABK.   Dia mengatakan bahwa dia memang suka  merokok, minuman keras. Dan setelah itu, ketika dia harus turun ke darat, dan tiba sampai di rumah, dia mulai merasakan sakit dibagian belakang, berat badan  semakin hari jadi semakin turun, matanya menjadi kuning.  Penderitaan yang dia alami itu yaitu saat dia buang air kecil, buang air besar.  Waktu setiap kali ingin buang air besar atau kecil dia harus merayap ke kamar mandi.

Suatu saat, ketika dia mau buang air kecil, keluar  seperti darah, dan ternyata benar benar keluar darah,  dalam kondisi sadar, dia segera langsung pergi ke RS, dia disarankan ke bagian Laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan darah lengkap. Hasil pemeriksaan dinyatakan ada ganguan di ginjal,  disarankan juga melakukan Photo USG. Setelah dilakukan photo USG, dokter menunjukkan bahwa disana di bagian ginjal kiri ada batu kecil yang menempel dan dokter menyarankan dia untuk segera dioperasi,  diberikan juga surat rujukan untuk tindakan  operasi.

Di bulan Nopember 2015,  dia segera berangkat ke Jakarta, tidak ke Jayapura, seperti yang disarankan dalam surat itu untuk tindakan operasi. Setibanya di Jakarta, dimana perawat yang juga pernah merawat istrinya,  memberitahukan bahwa mata Pak Martinus berwarna kuning, badannya yang mulai hitam, bahkan  tambah hitam,  nampaknya dia punya penyakit.  Dia menunjukkan surat pengantar atau rujukkan, lalu perawat membaca bahwa disana ada gangguan di ginjal, tetapi perawat menyarankan untuk dia coba dulu mengunakan  obat herbal, setelah dia  minum obat dari herbal ini, tetap tidak belum ada perubahan.

Suatu hari, ada seorang hamba Tuhan datang ke rumah kost dimana mereka tinggal, hamba Tuhan mengajak untuk berdoa dan membacakan Firman Tuhan, dan  mengundang beliau untuk hadir dalam acara ibadah kesembuhan di GPA.

Pada tanggal 11 Februari 2016, dia datang ke KPPI,  dalam keadaan pinggangnya yang masih sakit, dia mengikuti ibadah dengan sungguh- sungguh, dan ketika doa kesembuhan, dia mengalami jamahan Tuhan, seketika itu juga dia mengalami kesembuhan secara total.

Pak Martinus menyaksikan kesembuhannya di panggung di KPPI 11 Februari 2016, dia yang datang masih dalam kondisi lemas, dan selama  6 bulan,  dia tidak dapat melakukan aktivitas seperti berlari, membungkukkan badannya dan melompat, tetapi di kebaktian dia sudah disembuhkan, dia sudah bisa lari, lompat dan membungkkan badannya.

Setelah pulang dari KPPI, dan besoknya dia langsung melakukan pemeriksaan ke dokter dan dokter menyatakan bahwa hasil pemeriksaan hasilnya  sudah bersih, dia juga menunjukkan hasil pemeriksaan radiologi, dimana tertulis bahwa tidak tampak kelainan pada radiologi abdomen saat ini.

Dia juga mengatakan bahwa saat buang air kencing sudah tidak merah lagi, tetapi jernih sekali, dan kencingnya lancar. Dia juga langsung mempraktekan apa yang tidak bisa dia lakukan yaitu seperti mengangkat kursi, berolahraga seperti berlari,melompat dan membungkukkan badanya.

Terpujilah Tuhan atas kasih setiaNya yang besar ditunjukkanNya bagi orang yang mengasihi Dia !



Senin, 19 September 2016


Ketika masih kecil umur 3 tahun sekitar tahun 1974 di desa Wolofeo ( 30 km dari kota Ende Flores), pada saat musim panen padi dia bermain main sama teman temannya dan ketika sedang duduk di sawah maka dia memasukkan 3 butir padi ke kuping sebelah kiri. Setelah itu dia berusaha mengeluarkantetapi tidak bisa Dia.Dia meminta orang tua nyajuga menolong untuk membantu mengeluarkannya tetapi juga tidak bisa. Dia pergi ke dokter dan dokter berusaha untuk menyemprotkan ke telinga sebelah kiri dan dikorek tetapi padi tersebut tidak kunjung dapat dikeluarkan.

Pada saat dia SMP, ketika dia sedang bermain selang air bersama adiknya tidak sengaja selang air yang berisi minyak tanah masuk ke telinga sebelah kiri, terasa perih dan panas, dia berusaha untuk mengeluarkan minyak tanah tersebut tapi tidak bisa. Dan ketika dia sedang tidur dan terbangun, 3 butir padi itu keluar dengan sendirinya. Hal ini mengakibatkan telinga kirinya semakin tidak bisa mendengar.

Menjelang SMA telinganya bertambah parah, bernanah dan berbau. Penjelasan medis yang dialami Bpk Carolus adal – Sebagian besar sakit telinga disebabkan oleh peradangan baik pada telinga luar atau telinga tengah – Benda yang masuk ke telinga sebelah kiri Bpk Carolus sewaktu kecil menimbulkan jamur atau bakteri yang mengakibatkan radang pada telinga luarnya. Sakit Telinga Radang Telinga Tengah Infeksi pada rongga telinga tengah yang sangat nyeri disertai gejala gejala :

- Demam
- Suara berdenging di telinga Kurang pendengaran
- Keluar suatu cairan kuning, kental mengalir dari telinga yang terinfeksi menunjukkan bahwa gendang telinga telah robek karena meningkatkan tekanan di dalam rongga telinga. 

Apa yang dialami oleh Bpk Carolus adalah pengobatan infeksi telinga tengahnya terlambat sehingga menyebabkan TULI PERMANEN pada telinga sebelah kirinya. Teman teman perempuannya meledak dan dia merasa minder dan malu.

Sampai Bpk Carolus dewasa maka telinga sebelah kirinya tetap tuli dan keadaan ini sangat mengganggu Sampai ia menikah, ia kesulitan berkomunikasi dengan istrinya Ia datang KE KPPI selama 3 kali berturut-turut, yaitu pada bulan Oktober, November dan Desember 2003 .

Pada saat KPPI tanggal 4 Desember 2003 dia datang dengan penuh keyakinan dan percaya bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan dia.. Dia datang dengan hati yang penuh pengharapan, saat didoakan kesembuhan, dia menerima kesembuhan Ketika interview, maka dia di test kesembuhan dan puji Tuhan dia dapat mendengar dengan baik, pada saat telinga kanannya ditutup dengan tujuan telinga sebelah kiri dapat mendengar. Dan ketika disuruh mengikuti perkataan Hamba Tuhan untuk berkata HALELUYA Puji Tuhan maka dia dapat mengikuti dengan baik.

Istrinya memberikan kesaksian bahwa sebelum ke KPPI maka terus terang dia sulit untuk berkomunikasi karena telinga sebelah kiri tidak dapat mendengar tetapi setelah disembuhkan Tuhan maka dia dapat mendengar dengan jelas. Dia berdoa mengucap syukur atas kesembuhan yang dia terima. . Tuli selama 29 tahun telah Tuhan Yesus sembuhkan.



Jumat, 16 September 2016


Saya adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak.

Pada tanggal 6 Oktober 2002, tangan sebelah kanan saya kesemutan sampai terasa kebas / tidak dapat merasakan apa – apa. Kemudian, diikuti oleh kaki kanan saya yang  juga ikut kesemutan terus menerus, Hal ini berlangsung sepanjang hari. Keesokan harinya, saya  pergi ke salah satu RS di Bekasi. Dokter spesialis syaraf di Rumah Sakit tersebut, menyarankan saya untuk di opname agar dapat dilakukan pemeriksaan yang lebih intensif, karena kondisi tubuh saya semakin memburuk : tubuh sebelah kanan sudah susah digerakkan, bahkan jalan pun harus diseret. Diagnosa dokter pada waktu itu : ada tumor di kepala saya, karena kepala saya akan terasa sakit sekali, walaupun hanya disentuh sedikit saja.

Setelah itu, keluarga saya menempuh berbagai cara untuk menyembuhkan penyakit saya :

 * Saya dibawa ke seorang Sinshe yang terkenal dan saya diberi ramuan untuk diminum. Menurut Sinshe tersebut, saya menderita gejala stroke. Tetapi, selama 3 minggu berobat ke sinshe itu, kondisi tubuh saya tidak mengalami perubahan. Bahkan, bertambah parah, karena kemudian tangan dan kaki kiri saya juga mengalami kelumpuhan. Berarti, ke dua tangan dan kaki saya sudah tidak bisa digerakkan lagi.

 * Saya dibawa ke seorang dokter umum di Bekasi yang juga melayani pijat refleksi.

 * Dalam keadaan putus asa, saya menerima tawaran untuk dibawa ke seorang dukun, karena saya disangka diguna-guna orang. Saya diurut, disembur, diberi obat untuk mandi dan obat untuk perlindungan tubuh supaya tidak kram. Setiap 4 hari sekali, saya pergi ke sana. Setelah 1 ½ bulan berobat ke dukun tersebut, kondisi tubuh saya  tidak mengalami perubahan apapun juga.

Pada bulan Desember 2002, kondisi saya semakin parah. Saya tidak bisa membolak balikkan tubuh saya, apalagi untuk bangun dari tempat tidur karena tubuh saya telah menjadi kaku dan lemas. Saya benar- benar tidak bisa bergerak. Saya sangat sedih, lebih-lebih melihat anak-anak saya yang masih kecil dan perlu bimbingan.

 * Akhirnya, keluarga saya memutuskan untuk membawa saya ke RS. Saya menjalani scanning dan di EEG (untuk memonitoring urat – urat syaraf) dan hasilnya normal / tidak ditemukan kelainan apa – apa.Tetapi tubuh saya tetap tidak berdaya, hanya bisa berbaring dan sebentar-sebentar mengalami kejang-kejang. Dua minggu lamanya saya dirawat inap di RS tersebut dan karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan secara medis untuk menyembuhkan saya, maka saya dibawa pulang kembali ke rumah.

Selama saya di rumah, ada Hamba Tuhan yang datang berdoa dan terus membangkitkan pengharapan saya kepada Tuhan. Selain itu mereka juga mengundang saya untuk datang ke Kebaktian Pujian Dan Penyembuhan Ilahi (KPPI). Saat itu, saya begitu bergirang dan percaya saya pasti sembuh.

Pada tanggal 13 Februari 2003, saya dijemput, digendong menuju ke mobil yang akan membawa saya ke KPPI dan dibaringkan di jok mobil, karena kondisi tubuh saya memang tidak bisa digerakkan. Ke dua kaki dan tangan saya lumpuh total.

Sebelum masuk ke ruang kebaktian, Tuhan telah menjamah hati saya melalui puji-pujian yang saya dengar. Bahkan, selama kebaktian berlangsung, saya terus menerus menangis. Saya teringat semua kegagalan dan kesalahan saya, terutama ketika saya pernah mengundurkan diri dari pelayanan. Saya benar-benar bertobat dan minta ampun kepada Tuhan dan memohon kesembuhan dari Tuhan.

Pada waktu  lagu penyembahan ‘Alleluia, Alleluia’ dinaikkan, saya mendengar suatu suara yang kuat dari dalam hati saya yang memerintahkan saya untuk bangkit. Saya tidak dapat menahannya. Saya merasakan ada kekuatan dalam tubuh saya, sehingga saya mulai bangun dari posisi saya yang terbaring di kursi dan duduk. Puji Tuhan…!

Demikian juga pada saat Firman Tuhan disampaikan, iman saya makin teguh dan ada kekuatan yang mengalir.

Pada saat doa kesembuhan, ada Hamba Tuhan yang menghampiri saya dan kami berdoa bersama-sama. Dengan iman, saya mulai bangkit dari tempat duduk saya dan mulai berjalan. Haleluya….!

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, bahwa sampai dengan hari ini saya sudah dapat  berjalan dengan normal. Selain itu, saya juga rindu untuk  melayani Tuhan kembali. Puji Tuhan….!!!



Rabu, 31 Agustus 2016

Berawal dari bulan November tahun 2003, Bapak Timbul Siagian sering merasakan kesemutan pada jari tangan dan jari kakinya yang semakin hari semakin bertambah parah. Lama kelamaan kedua kakinya berangsur-angsur tidak kuat lagi untuk dibawa berjalan, begitu juga dengan kedua tangannya yang tidak kuat lagi memegang barang-barang. Dan bila jari-jari tangan dan kakinya disentuh maka akan terasa disetrum. Karena kondisinya yang semakin parah Pak Timbul memutuskan untuk pergi ke Rumah sakit.
 Berdasarkan keluhan dan pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter, dokter mengambil kesimpulan bahwa pak Timbul mengalami SGB (Syndrome Guillen Barre), suatu penyakit yang menyerang saraf sehingga menyebabkan kelumpuhan pada anggota gerak, dimulai dari anggota gerak bawah berlanjut ke atas yang dapat disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Akibat penyakit ini Pak Timbul sama sekali tidak dapat beraktifitas normal seperti biasanya, bahkan untuk makan dan ke kamar mandi dia harus selalu ditolong oleh orang lain.
Pada tanggal 12 Februari 2004, Pak Timbul dibawa oleh keluarganya ke KPPI dengan kondisi yang masih lumpuh. Kemudian, pada tanggal 11 Maret 2004 ia datang kembali ke KPPI untuk kedua kalinya. Saat itulah ia merasakan perubahan pada kaki dan tangannya. Setelah didoakan oleh Hamba Tuhan kemudian ia mencoba untuk berdiri. Puji Tuhan ia dapat berdiri!
Pak Timbul bersaksi, selama tiga bulan mengalami kelumpuhan dan tidak dapat berdiri dari kursi rodanya maka kali ini adalah yang pertama kali dia bisa keluar dari kursi roda, bahkan dia sanggup mendorong kursi rodanya sendiri.
HALELUYA….. Sekarang Pak Timbul sudah dapat melakukan semua aktivitas yang selama sakit tidak dapat ia lakukan.
Pada KPPI 13 Mei 2004, dua bulan sesudah disembuhkan di KPPI, dia datang dengan kondisi berjalan sendiri dan normal tanpa bantuan kursi roda lagi. Haleluyah!
Dalam pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa pak Timbul mengalami SGB (Syndrome Guillen Barre), suatu penyakit yang menyerang saraf sehingga menyebabkan kelumpuhan pada anggota gerak, dimulai dari anggota gerak bawah berlanjut ke atas yang dapat disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri.
Pak Timbul dibawa oleh keluarganya ke KPPI (12 Februari 2004) dengan kondisi yang masih lumpuh. Datang kembali ke KPPI untuk kedua kalinya, saat itulah ia merasakan perubahan pada kaki dan tangannya. Setelah didoakan kemudian ia mencoba untuk berdiri. Puji Tuhan ia dapat berdiri!
Saya menikah pada bulan Agustus 1997. Sebagaimana layaknya sebuah keluarga, saya dan suami saya merindukan hadirnya seorang anak sebagai pelengkap kebahagiaan keluarga kami. Tetapi setelah menunggu 1 tahun lamanya, kami belum juga dikaruniai seorang anak. Hati kami sangat sedih, karena kami betul-betul merindukan hadirnya seorang anak dalam keluarga kami. Saya dan suami mulai berdoa dan berharap pada Tuhan, supaya Tuhan memberi kami keturunan. Kami percaya bahwa Tuhan pasti mendengar dan menjawab doa kami.
Memasuki tahun kedua usia pernikahan kami, saya dan suami semakin berharap pada pertolongan Tuhan dan mulai rajin pergi ke gereja. Kami mulai belajar untuk lebih  mengikuti Tuhan dengan sungguh – sungguh.
Memasuki tahun yang ketiga dan keempat, kami masih belum melihat adanya  perkembangan yang berarti. Hal ini membuat hati kami  merasa sedih, down dan malu pada  keluarga. Tetapi karena saya percaya bahwa Tuhan pasti akan menjawab doa saya, maka saya terus setia berharap dan berdoa kepada Tuhan.
Pada bulan Maret 2001, saya diajak ke KPPI oleh seorang Hamba Tuhan. Sejak saat itu, timbullah harapan dan semangat baru di dalam hati saya.
Pada tanggal 8 Maret 2001, saya datang ke KPPI dengan gembira, penuh pengharapan dan iman bahwa Allah pasti menjawab doa saya. Pada saat Firman Tuhan disampaikan, saya semakin percaya dan iman saya semakin dibangkitkan. Ketika didoakan oleh Hamba – hamba Tuhan di KPPI, saya merasa ada sesuatu yang hangat mengalir di dalam tubuh saya. Pada waktu itu juga, saya yakin bahwa doa saya telah dijawab oleh Tuhan.
Saya datang lagi ke KPPI sebanyak empat kali, terakhir pada bulan Juli 2001.  Enam bulan kemudian, yaitu pada bulan Januari 2002, saya mulai merasa mual-mual dan pusing. Karena rasa sakit yang tidak tertahankan, saya pergi ke dokter terdekat. Ternyata, … berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa saya positif hamil. Haleluya ! Puji Tuhan ! Tuhan telah menjawab doa saya ! Terimakasih Tuhan ! Tidak ada yang mustahil bagi Dia ! Saya tahu bahwa kehamilan ini dari Tuhan. Saya memberitahukan hal ini kepada keluarga saya dan tetangga-tetangga saya.
Bulan demi bulan, saya jalani kehamilan saya dengan satu sukacita serta ucapan syukur.
Pada hari Minggu, tanggal 13 Oktober 2002, SAYA MELAHIRKAN SEORANG BAYI PEREMPUAN YANG CANTIK SEBERAT 4,1 KG DENGAN SELAMAT. Puji Tuhan, saya merasakan anak ini merupakan pemberian Tuhan bagi kami sekeluarga.
Puji Tuhan!

Selasa, 23 Agustus 2016

Bapak Thim Kian Boen (64 tahun) sudah bertahun-tahun mengalami komplikasi penyakit, yang paling menganggu Pak Boen adalah sakit pada bagian dadanya yang diakibatkan oleh sakit pada bagian jantungnya.
Keluhan ini mulai dirasa pada tahun 2008, jika sakit jantungnya kambuh yang dirasakan oleh Pak Boen adalah   seluruh badannya menjadi berkeringat dan dada yang nyeri. Untuk meringankan keluhannya yang dia lakukan hanyalah mengoleskan minyak angin pada diseluruh badan. Pak Boen dikatakan oleh dokter menderita penyakit jantung dan harus kontrol seminggu sekali.
Walaupun dalam  keadaan yang sakit, dia tetap melakukan pekerjaannya sebagai Ojek untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari.  Saat mengojek Pak Boen harus berhati-hati sebab Pak Boen memiliki pengalaman saat mendengar bunyi klakson dari mobil lain di jalan, Pak Boen akan merasa kaget dan keluhan jantungnya muncul, sehingga Pak Boen harus meminggirkan motornya yang masih ada penumpang hanya untuk mengoleskan minyak pada badannya.
Obat-obatan terus diminum namun tetap tidak ada perubahan yang dirasakannya. Akibat sakit jantung yang di deritanya, Pak Boen  tidak boleh lelah untuk mencegah kekambuhan.
Suatu hari Pak Boen mendapatkan undangan KPPI, iapun hadir dalam KPPI 28 Mei 2015.
Pada saat doa kesembuhan, Pak Boen diminta untuk bergerak dalam iman:  berlari dan jongkok, sempat dia tidak mau karena dia berfikir tidak mungkin dia lakukan karena dia dalam keadaan sakit. Tapi akhirnya Pak Boen mengambil langkah iman, kalau orang lain dapat sembuh, maka dia percaya dia juga akan sembuh. Dia  pasrah saja dan percaya bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan.
Puji Tuhan pada saat Pak Boen beriman maka Tuhan menyembuhkan dia dengan total dan tidak ada sakit lagi. Dia sudah bisa beraktifitas dengan normal.

Butuh layanan doa dari kami silahkan menghubungi kami di nomor 0888 0850 5162 / 0813 8028 3086
Petrus Harianto Simbolon – Sembuh dari Radang Otak
Saya adalah Ibu Marta, ibu dari Petrus Harianto Simbolon (11 bulan). Saya hendak menyaksikan kesembuhan yang dialami oleh anak saya, Petrus yang disembuhkan Tuhan Yesus dari sakit radang otak akibat virus herpes.
Pada tahun 2003, Petrus telah lahir sebagai anak laki-laki kami satu-satunya dan ia lahir sebagai bayi yang sehat dan normal dengan berat badan 3,9 kg. Saat ia berumur 1 ½ bulan ketika saya sedang memberi minum susu di botol, tiba-tiba ia pingsan tanpa ada gejala-gejala yang menunjukkan bahwa dia sedang sakit. Saya sangat panik dan langsung membawanya ke Rumah Sakit terdekat di kota Bandung pada tanggal 17 Juli 2003.
Oleh dokter, anak saya disuntik dan diinfus tetapi tidak ada perubahan apapun. Dokter mengatakan bahwa ia telah berusaha agar Petrus sadar dari pingsannya, sekalipun jantungnya sudah dipompa tetap tidak dapat  berdetak dengan normal. Untuk pertama kalinya anak saya dirawat di Rumah Sakit selama 1 bulan dalam keadaan koma.
Setelah sebulan di Rumah Sakit, anak saya tidak mengalami perubahan, maka saya memutuskan untuk membawanya pulang ke rumah dengan rasa putus asa. Dokter tidak dapat berbuat apa-apa dan mengijinkan saya membawanya pulang ke rumah.
Pada 17 Agustus 2003, saat ia di rumah tiba-tiba napas Petrus mendadak berhenti dan jantungnya saya rasakan tidak berdetak. Saya sangat terkejut karena saya tidak siap menghadapi kenyataan bahwa anak saya satu-satunya akan meninggalkan saya untuk selama-lamanya. Saya segera berdoa dan berseru kepada Tuhan Yesus memohon pertolongan-Nya untuk anak saya. Namun demikian tidak terjadi perubahan apa-apa, anak saya, Petrus tubuhnya terbujur kaku dalam pelukan saya, saat itu waktu menunjukkan Pk. 02.00 WIB dini hari. Saya hanya bisa menangis dan menangis pada Tuhan semalam-malaman, lalu saya disuntik obat penenang.
Ketika anak saya sedang dipersiapkan penguburan dengan adat Batak yang begitu lama, saya sadar. Kemudian saya mendekati, mengambil anak saya lalu mendekapnya, dan saya tiba-tiba dapat merasakan anak saya bisa bernapas kembali. Saya berkata kepada orang-orang yang ada di sekitar anak saya bahwa anak saya masih bernapas, tapi tanggapan mereka kepada saya malah lain, ada yang berkata : “Ibunya itu yang stress……. Ibunya yang gila…….!”Tidak ada seorangpun yang mempercayai kata-kata saya. Lalu saya menunjukkan Petrus kepada bibi saya kemudian dia berkata : ”Ya, kita tunggu dulu selama 1 jam. Setelah 1 jam berlalu, anak saya benar-benar dapat bernapas, saya bersama anak saya dibawa ke Rumah Sakit Barmeus  dengan beberapa orang yang berpakaian serba hitam sebagai tanda berkabung sebanyak 5 mobil. Di RS, orang-orang mendekati saya yang memangku dan mengendong anak saya, bertanya ada apa ini, kok semuanya memakai baju hitam begitu juga dengan ibunya.
Saya melihat tubuh anak saya kaku dan tidak bergerak sama sekali, hanya napasnya yang sesekali. Dokter menjelaskan ia hanya dapat bernapas dengan alat bantu pompa jantung. Saat itu ia hanya diberi vitamin karena dokter belum dapat menemukan penyakit apa yang menyerang anak saya.
Pada bulan September 2003, Petrus dirawat kembali di Rumah Sakit untuk ketiga kalinya. Di sana dokter tidak menemukan penyebab sakit yang dialami anak saya. Selama 3 minggu dirawat, ia tidak mengalami perubahan apapun, tetap kaku dan tidak dapat bergerak dengan leluasa.
Kemudian saya membawanya ke Rumah Sakit yang lain untuk ke-empat kalinya yaitu sekitar bulan Oktober 2003. Ia diperiksa oleh team dokter dan menjalani CT Scan. Hasil CT Scan mengatakan bahwa di bagian otak anak saya Petrus ada virus herpes. Virus herpes inilah yang menyerang susunan syaraf pada otaknya sehingga tubuhnya menjadi kaku tidak bisa bergerak, tidak dapat merespon apapun terhadap hal-hal yang dari luar dan terjadi kelemahan pada beberapa fungsi tubuh contohnya : setiap makanan dan minuman yang masuk ke tubuhnya selalu dimuntahkan dan  seringkali ngompol bisa sampai 15 kali dalam sehari, selalu dalam keadaan tidur.
Pada saat itu dokter  mengatakan bahwa selama 1 minggu dirawat di RS ini anak saya tidak ada perubahan dan diperkirakan umur anak saya tinggal seminggu lagi, oleh sebab itu saya membawanya pulang ke rumah.
Saya pulang ke rumah dengan berharap penuh kepada Tuhan yang sanggup menolong anak saya untuk menyembuhkannya. Saya teringat bahwa anak saya sempat meninggal tetapi Tuhan telah menghidupkannya lagi, maka saya percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup menyembuhkan anak saya !
Pada tanggal 7 April 2004, dalam perjalanan pulang berobat anak saya dari rumah sakit, saya naik angkot, saya dalam keadaan bengong sebab memikirkan bagaimana nasib anak saya. Saat itu seperti ada seorang pemuda yang melemparkan beberapa selebaran ke dalam angkot dan tepat didepan saya duduk. Saya segera mengambilnya dan membaca selebaran tersebut, ternyata undangan Kebaktian Kesembuhan yang diadakan di Bandung Trade Center (BTC) pada tanggal 9 April 2004. Setelah membaca selebaran itu saya melihat ke arah pemuda itu lalu selebaran tersebut saya masukkan ke dalam tas. Saya memutuskan untuk datang ke acara tersebut sambil membawa anak saya.
9 April 2004, saya datang ke acara Kebaktian Kesembuhan tersebut sambil saya bertanya-tanya kepada tetangga saya dimana letak BTC (Bandung Trade Center) karena saya tidak tahu dimana lokasi gedung tersebut. Kemudian saya disarankan untuk naik angkot jurusan Jati. Saya bertanya kepada salah seorang sopir angkot dan saya diantar ke BTC sendiri, tidak ada penumpang yang lain. Ketika sampai di Gedung BTC saya langsung menghampiri Petugas Satpam menunjukkan undangan tersebut lalu kami diantar ke lantai 6, tempat dimana diadakan Kebaktian Kesembuhan.
Pada saat puji-pujian, saya benar-benar mengarahkan hati dan pikiran saya kepada Tuhan serta mohon supaya anak saya disembuhkan. Ditengah-tengah puji-pujian, tiba-tiba anak saya menangis sekencang-kencangnya bahkan saya tidak menyadarinya karena saya terpaku pada pujian tersebut. Lalu orang-orang yang ada disekitar saya mendekati saya dan berkata agar anak saya diberi minum supaya tidak menangis. Seketika itu saya baru menyadari bahwa Petrus telah dapat menangis dan menggerakkan tangannya berulang kali.
Saya sangat terkejut karena setelah 7 bulan saya menggendongnya kaku, tidak bisa bergerak-gerak. Tiba-tiba ada suatu gerakan yang dapat saya rasakan di tubuhnya. Saya sangat terharu. Sambil mencium bayi saya berulang kali, saya bersyukur kepada Tuhan Yesus yang telah menyembuhkannya. Saya dapat merasakan seperti ada suatu kehidupan yang datang dalam tubuh anak saya. Puji Tuhan! Selama ini saya sudah menunggu akan kesembuhannya dan hari ini saya percaya anak saya, Petrus sudah disembuhkan!
Saat doa kesembuhan saya maju ke depan, saya semakin menyadari bahwa Tuhan Yesus hadir dalam acara kebaktian tersebut dan Dia ingin menyembuhkan anak saya. Dengan satu keyakinan saya maju ke depan untuk minta didoakan anak saya.
Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya kembali dinyatakan, tiba-tiba anak saya dapat menangis dengan kencang, dengan teriakan suaranya yang melengking dengan jelas. Sebelumnya dia menangis dengan tanpa teriakan ataupun tanpa bersuara apa-apa. Sekali lagi saya memeluknya erat-erat dengan rasa syukur yang sangat dalam karena perubahan yang saya lihat begitu nyata. Saya bersyukur karena Tuhan Yesus menyembuhkan anak saya malam ini.
Sesudah kebaktian ada seorang dokter yang memeriksa anak saya, hasilnya adalah :
Respon mata anak saya sudah baik / dari respon cahaya dan gerakan bola mata lebih   membaik
Paru-parunya sudah mulai membaik
Jantungnya berdetak dengan baik
Biasanya sehari ngompol 15 kali tetapi hari ini anak saya hanya 3 kali kencing
Setiap makan dan minum yang masuk selalu dimuntahkan tetapi hari ini dia makan dan minum dengan lahap
Semua hasil pemeriksaan dokter tersebut menunjukkan bahwa kerja otaknya sudah mulai membaik dan normal. Puji Tuhan! Anak saya sudah sembuh. Semua karena anugerah Tuhan Yesus!
Sampai dengan tanggal 21 Mei 2004, Petrus masih tetap sembuh. Sekarang berat badannya telah bertambah dari 6 kg menjadi 10 kg. Dulu minum susu baru ½ botol sudah muntah tetapi sekarang 3 botol Petrus dapat menghabiskan, demikian juga dengan makanan yang ia makan, tidak ada yang ditolaknya, seperti : agar-agar, roti, chiki dan sebagainya.
Sungguh saat ini Petrus benar-benar dalam keadaan yang telah sehat. Puji Tuhan! Tuhan sangat baik buat saya dan anak saya. Saya mengucap syukur atas segala yang telah dilakukan pada anak saya, Petrus.

Butuh layanan doa dari kami silahkan menghubungi kami di nomor 0888 0850 5162 / 0813 8028 3086

Recent Post

Layanan Doa

WhatsApp: Call Center : 0819 0707 9179

Event

Diberdayakan oleh Blogger.

Gallery

ada jawaban

VIDEO